The Planet

Memahami Batasan Pakaian Syar’i

Dalam Islam, masing-masing muslimah diperintahkan memblokir atau menutup aurat. Karenanya, paling penting untuk muslimah untuk memahami batasan-batasan aurat yang boleh diperlihatkan di depan yang bukan mahramnya.

Ada sebanyak perbedaan pendapat tentang batasan aurat. Beberapa muslimah yang sudah memblokir aurat, kerap dinamakan belum berpakaian secara syar’i. Sebenarnya, sejauh mana batasan memblokir atau menutup aurat yang syar’i?

Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Abdul Moqsith Ghazali menuliskan, andai direfleksikan dalam syariat Islam, semua ulama mempunyai dua pendapat bertolak belakang dalam persoalan ini.

Pendapat ke 1, beberapa ulama merujuk untuk sebuah hadis, bahwa ‘Al mar’atu ‘aurah’, semua tubuh perempuan ialah aurat. Dengan dasar GaleriGamis.co.id ini, beberapa ulama Asy-syafi’i mengaku bahwa aurat perempuan ialah seluruh tubuhnya, tergolong muka dan telapak tangan.

Sementara beberapa ulama beda yang merujuk untuk Alquranul karim mengaku ‘Walaa yubdiina ziinatahunna illa maa zhahara minha’ (An-Nur:31), wanita tidak boleh menampakkan auratnya kecuali sesuatu yang biasa terlihat pada diri wanita itu.

Mengacu pada ayat ini berarti terdapat bagian tubuh wanita yang boleh diakses oleh orang beda yang bukan mahramnya. Dengan dasar ayat ini, maka lantas sebagian ulama mengaitkannya dengan hadits yang mengaku seluruh tubuh wanita harus tertutup kecuali muka dan telapak tangannya. ‘Illal wajhah wal kaffain, kecuali muka dan telapak tangan,” kata Moqsith.

Perbedaan-perbedaan tafsir terhadap Alquran dan hadis, menurut keterangan dari Moqsith, mencetuskan keragaman pandangan di kalangan semua ulama tentang batasan aurat.
Itu artinya, secara tegas melafalkan bahwa memblokir atau menutup aurat ialah wajib, walau para ulama masih memperselisihkan tentang di mana batas aurat perempuan.

Perbedaan-perbedaan laksana ini lazim di lingkungan para berpengalaman fiqih. Karena itu, tak butuh dibesar-besarkan, kita dapat mengikuti satu pandangan yang mengaku bahwa tubuh wanita yang dapat diakses oleh publik ialah muka dan telapak tangannya. Hanya dengan membuka muka dan telapak tangan itu, maka kita dapat dianggap sudah merealisasikan syariat Islam,” ucapnya.

Moqsith melanjutkan, guna kepentingan dunia modern, di mana orang mesti dikenali maka membuka wajah tidak berlawanan dengan syariat Islam. Dengan demikian di lingkungan-lingkungan laksana di perguruan tinggi Islam, di pesantren, arus utamanya merupakan menggunakan jilbab, memblokir atau menutup kepala, menutup sebagian kakinya, lantas membuka muka dan telapak tangannya.

Jarang salah satu umat Islam di Indonesia yang memakai cadar sebagai unsur dari keharusan syariat. Dengan demikian, pakaian wanita seperti lazim digunakan oleh umat Islam Indonesia telah termasuk ke dalam pakaian yang memenuhi peraturan syariat Islam,” ucap Moqsith.

Pakaian yang digunakan oleh mereka, tidak berlawanan dengan syariat Islam, asalkan laksana yang disebutkan tadi, bagian-bagian yang ditetapkan oleh semua ulama, melewati Alquran dan hadits, tidak menjadi unsur dari aurat, maka dia mesti menutupnya,” ucapnya lagi.

Walaupun diperselisihkan oleh ulama tentang batas aurat perempuan, Galeri Gamis disebutkan Moqsith, tidak ada bentrokan di kalangan semua ulama bahwa dada perempuan ialah aurat yang mesti ditutup. Paha perempuan ialah aurat yang mesti ditutup. Terlebih, apakah kaki dan betis ialah bagian dari aurat yang butuh ditutup, ulama juga masih memperselisihkannya.

Itu berarti syariat Islam menata bahwa wanita wajib untuk memblokir atau menutup aurat, tapi semua ulama memperselisihkan di mana batas aurat. Karena semua ulama memperselisihkan di mana batas aurat, maka ekspresi wanita muslimah memakai pakaian untuk menutup tubuh mereka pasti bertolak belakang antara satu tradisi dengan tradisi yang lain,” tandas Moqsith.

(will not be published)
(optional)
remember me
subscribe to updates